Operator FWA rontok, CDMA tinggal menghitung hari
Operator FWA rontok, CDMA tinggal menghitung hari

ilustrasi industri telekomunikasi. © Ryanelectronics.com

Satu per satu, operator fixed wireless access (FWA) rontok, tak kuat menahan persaingan yang main sulit. Keterbatasan wilayah, dan sempitnya frekuensi hingga layanan menjadi kurang optimal menjadi kendala utama operator FWA.
Dimulai dari Hepi milik Smartfren (dulu Mobile-8 Telecom) yang sejak kelahirannya memang kurang berkembang dan hanya sekedar kompensasi dari pemerintah atas penggunaan pita 800 MHz untuk operator FWA lainnya yang dipindah dari pita 1.900 MHz.
Menyusul Hepi, kemudian Telkom Flexi yang segera digulung oleh manajemen Telkom mulai tahun depan. Hal itu sudah dikatakan oleh Dirut Telkom Arief Yahya bahwa pelanggan Telkom Flexi akan digeser ke Telkomsel.
Namun begitu, menurut Arief, Telkom tidak bisa serta merta mengambil keputusan karena tetap masih menunggu kebijakan dari pemerintah. “Tetapi soal ini semua kami harus menunggu kebijakan dari pemerintah, ujar Arief.
Flexi sendiri merupakan pelopor layanan FWA yang dibentuk pada 2002.
FWA sebenarnya hanya ada di Indonesia. Layanan seluler mobilitas terbatas itu merupakan buah dari kompromi regulator kepada Telkom atas makin rendahnya minat masyarakat pada telepon rumah (PSTN).
FWA sebenarnya adalah teknologi seluler yang dikerdilkan oleh regulasi, terutama dari sisi mobilitas. Identiknya FWA dengan teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) tak bisa dilepaskan dari keinginan pemerintah yang berkeinginan untuk mengembangkan jaringan tetap lokal (Jartaplok) secara masif.
Namun, pemilihan teknologi inilah yang dianggap simalakama karena CDMA 2000 di International Telecommunication Union (ITU) sudah dikategorikan sebagai IMT-2000 atau 3G.Tetapi, karena izin dikantongi pemain Jartaplok, maka teknologinya dipasung tidak boleh roaming dan tidak boleh bergerak diluar kode wilayah.
Operator FWA lainnya, yang sudah menyatakan akan menghapus layanan telepon akses nirkabel tersebut adalah Indosat StarOne. Seperti yang dikatakan President Director and CEO Indosat Alexander Rusli, bahwa StarOne kemungkinan juga dihapus dan semuanya diselulerkan.
“Pelanggan StarOne yang hanya berjumlah 3 ribu orang akan dimigrasikan ke seluler 3G U900 MHz, termasuk penomorannya,” katanya.
Bila Flexi dan StarOne saja mengalami kesulitan, apalagi Esia, produk dari PT Bakrie Telecom Tbk, yang bisa dibilang hidup segan mati tak mau. Anak usaha Bakrie and Brothers tersebut harus segera mencari pembeli potensial atau gabung dengan operator lain bila tak ingin mati.
Bukan hanya FWA saja yang kian meredup, seluler berbasis CDMA pun sudah tinggal menghitung hari, karena di dunia ini hanya tinggal Indonesia dan sebagian kecil negara saja yang masih menggunakannya, sehingga vendor pun enggan memproduksi perangkat secara massal.
Maka, operator seperti Smartfren pun harus segera menyiapkan dana yang tidak sedikit untuk segera bermigrasi ke LTE bila tidak ingin gulung tikar. Penggantian BTS, handset pelanggan, dan infrastruktur pendukung lainnya tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Sumber : Merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *