Pelanggan Flexi ‘dipaksa’ pindah ke Telkomsel
Pelanggan Flexi 'dipaksa' pindah ke Telkomsel

Telkom Flexi Combo. ©2012 Shutterstock – Telkom

Industri fixed wireless access (FWA) memang telah meredup. Apalagi, vendor teknologi yang menaunginya, code division wireless access (CDMA) sudah menghentikan produksi perangkatnya. Alhasil, operator FWA tidak bisa mengembangkan jaringannya lebih jauh lagi.
Meredupnya FWA dan CDMA memaksa PT Telekomunikasi Indonesia melikuidasi Telkom Flexi. Ke depannya, Telkom nampaknya sudah yakin untuk mematikan Flexi dan memindahkan pelanggannya ke Telkomsel, anak usaha Telkom.
Perpindahan ini bukan tak berdampak, sebab antara perizinan FWA dengan seluler berbeda. FWA merupakan layanan dengan mobilitas terbatas, sementara seluler tidak terbatas.
Pada FWA, konsep penomoran menggunakan telepon tetap atau dikenal dengan telepon rumah, sehingga mencirikan adanya kode wilayah. Sementara untuk seluler menggunakan konsep penomoran NDC (national destination code) seluler dengan ciri masing-masing operator seperti 0812, 0812 untuk Telkomsel, 0815, 0816 untuk Indosat, 0817, 0818 untuk XL dan sebagainya.
Dengan digesernya pengguna Flexi ke Telkomsel, mau tidak mau nomor akan berubah alias nomor lama menjadi hangus.
Selain itu, konsep penomoran dan layanan yang bersifat terbatas membuat tarif FWA relatif lebih murah daripada seluler.
Sehingga, dampak lainnya adalah kemungkinan adanya perbedaan tarif, bahkan lebih mahal, jika pengguna Flexi harus berpindah ke Telkomsel. Selain itu, dengan network yang lebih luas, tarif Telkomsel relatif di atas rata-rata tarif layanan seluler.
Sebagaimana diketahui, rencana mematikan Telkom Flexi dan menggesernya ke Telkomsel diungkap Direktur Utama Telkom Arief Yahya.
“Telkom Flexi itu kan layanan personal. Sebenarnya mudah ditebak sih personal service pasti harus diganti dengan personal service juga. Di Telkom ada dua personal services, Telkomsel dan Telkom Flexi. Jadi, pelanggan Flexi akan digeser ke Telkomsel,” kata Arief.
Namun begitu, menurut Arief, Telkom tidak bisa serta merta mengambil keputusan karena tetap masih menunggu kebijakan dari pemerintah. “Tetapi soal ini semua kami harus menunggu kebijakan dari pemerintah,” ujar Arief.

Aumber : Merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *